Sidang Pertama Kasus Daur Ulang Alat Swab Antigen : News – Wepowergreatplacestowork

Delhi Jedang – Apakah Anda ingat penggunaan peralatan daur ulang dalam layanan antigen swab yang dioperasikan oleh PT Kimia Farma Diagnostics di Bandara Internasional Kualanamu Delisherdang? Kini kasus tersebut sudah dibawa ke pengadilan.

Sidang perdana kasus tersebut digelar secara virtual melalui telekonferensi di Pengadilan Negeri Lubukpakam, Rabu (15/9/2021).

Dalam sidang yang dipimpin Rosihan Juhriah Rangkuti, ketua dewan juri, pembacaan dakwaan terhadap Picandi Masco Jaya alias Candi, manajer bisnis divisi Sumatera I PT Kimia Farma Diagnostika (KFD) di Medan dan Aceh. Wilayah kerja dan empat bawahannya: Renaldi, Marzuki, Sepipa Razi dan Depi Jaya.

Jaksa Eka Nugraha dalam dakwaannya menyatakan bahwa para terdakwa dengan sengaja mendorong petugas atau pegawai yang ditugaskan kepadanya untuk memproduksi atau mendistribusikan obat-obatan dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabatnya atau dengan memberi mereka kesempatan, fasilitas atau informasi. /atau kesehatan yang tidak memenuhi standar dan/atau persyaratan keamanan, khasiat atau manfaat dan mutu peralatan.

Terdakwa menginstruksikan 4 terdakwa lainnya untuk menggunakan alat rapid test antigen swab Corona 19 berupa Dakron Swab, dan untuk kepentingan pribadi menggunakan tabung antigen untuk pelayanan rapid test antigen Corona 19 di Bandara Kuala Namu.

“Atas perintah terdakwa, pegawai PT Kimia Farma Diagnostika yang bekerja di lokasi pelayanan kesehatan PT Kimia Farma Diagnostika Antigen Rapid Test di Bandara Kuala Namu melakukan pelayanan Antigen Swab menggunakan Dakron Swab dan Tabung Antigen untuk melayani pengguna. Digunakan atau didaur ulang,” kata jaksa.

Baca juga: Anies keluarkan Statuta PPKM Tingkat 3 terbaru. Aturan perpindahan dari pusat perbelanjaan ke destinasi wisata adalah sebagai berikut:

Terdakwa kemudian memerintahkan terdakwa Renaldo untuk mendaur ulang alat swab jenis Antigen Dakron Swab untuk digunakan kembali dengan menyerahkannya kepada analis agar tidak rusak.

Selanjutnya, terdakwa Renaldo meneruskan perintah terdakwa kepada analis.

“Selain itu, terdakwa membayar Renaldo 2.000.000 rupiah per bulan melalui terdakwa Sepipa Razi,” katanya.

Terdakwa memerintahkan terdakwa Marzuki untuk membuat laporan harian hasil rapid test antigen COVID-19 di Bandara Kualanamu. Selanjutnya Terdakwa memerintahkan Marzuki untuk mentransfer dana layanan Rapid Test Antigen menggunakan Dakron Swab harian baru ke Renaldo dan dana layanan Rapid Test Antigen menggunakan Dakron Swab harian bekas ke Sepipa Razi.

Jaksa menjelaskan, “Selain itu, terdakwa membayar Marzuki sekitar 300.000 hingga 500.000 rupiah per minggu.”

Terdakwa juga memerintahkan Sepiparaji untuk mengambil alat kesehatan bekas berupa Dakron Swab dan Tabung Antigen dari Lokasi Pelayanan Kesehatan Rapid Test Antigen PT Kimia Farma Diagnostika di Bandara Kualanamu dan dicuci kembali di bagian obstetri dan ginekologi PT. Laboratorium Klinik Diagnostika Kimia Farma yang berlokasi di Jalan Kartini. 1, Kota Medan.

Setelah dibersihkan swab dakron dan tabung antigen bekas, dibawa ke Pusat Pelayanan Medis Rapid Test Antigen PT Kimia Farma Diagnostika di Bandara Kualanamu dan diserahkan ke Renaldo.

Terdakwa juga mengajari Sepipa Razi cara membersihkan Dakron Swab dan Antigen Tube bekas agar dapat digunakan kembali.

Jaksa mengatakan, “Selain itu, terdakwa memberi Sepipa Raj uang dan barang berharga Rp 400.000 per minggu.”

Terdakwa kemudian memerintahkan terdakwa Depi Jaya untuk kembali mencuci swab dakron dan tabung antigen di ruang steril laboratorium klinik PT Kimia Farma Diagnostika Medan.

“Setelah Sepi, Dakron Swab dan Antigen Tube dikirim dari SEPIPA RAZI menuju Bandara Kualanamu. Terdakwa juga mengajari DEPI JAYA tata cara membersihkan Dakron Swab dan Antigen Tube bekas agar dapat digunakan kembali. Terdakwa juga membayar 3 uang. Waktu dengan rincian Rp 300.000 – sekitar akhir Desember 2020 Rp 800.000 – sekitar Februari 2021 dan Rp 500.000 – Jumat 23 April 2021 atau Sabtu 24 April 2021 Depi Jaya” jelas Depi Jaya.

JPU juga menemukan bahwa terdakwa Picandi Masco Jaya memiliki aset berupa uang Rp. Ia menerima uang tunai 2.236.640.000 won dari terdakwa, Sepi Paraji, secara bertahap.

Penuntut mengatakan, “Terdakwa menyetorkan hasil kejahatan ke berbagai rekening bank dengan tujuan menyembunyikan atau menyamarkan sumber uang.”

Setelah mendengar dakwaan jaksa, pengadilan menunda persidangan minggu depan untuk mendengarkan eksepsi para terdakwa.

Usai sidang, JPU Eka Nugraha menjelaskan kelima terdakwa dijerat pasal berbeda. Eka mengatakan terdakwa Picandi Masco Jaya dijerat pasal tentang kesehatan dan perlindungan konsumen serta pasal tentang pencucian uang.

Jaksa Eka Nugraha mengatakan, “Sementara empat terdakwa lainnya tercakup dalam UU Kesehatan dan UU Perlindungan Konsumen.”

Jaksa mendakwa para terdakwa dengan pasal lain. Picandi Mascojaya dijerat pasal 36, 196 Kesehatan tahun 2009 ttg Pasal 55 ayat 1 KUHP Kedua juncto Pasal 65 ayat 1 Pasal 62 ayat 1 KUHP. ) Undang-Undang Nomor 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Undang-Undang Nomor 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang terlampir pada Pasal 65(1) KUHP terkait Pasal 25.5(1) terkait dengan Pasal 8 ayat 1 huruf a. 3. dari 8

Empat terdakwa lainnya, Sepipa Razi, Renaldo, Depijaya, dan Marzuki, sesuai dengan Pasal 55 (1), sesuai dengan Pasal 55 (1), Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Dia didakwa melanggar pasal 196 tentang ke bagian 98 (3). Berkaitan dengan Pasal 65 Ayat 1 KUHP Kedua, Pasal 62 Ayat 1 Anak KUHP dikaitkan dengan Pasal 55 Ayat 1 KUHP, dan Pasal 65 Ayat 1 KUHP Kedua.