Kerusuhan, Kelompok Preman Medan Coba Kosongkan Rumah Nenek : News – Wepowergreatplacestowork

Medan – Upaya komplotan geng mengosongkan rumah nenek dan tiga cucu di Kota Medan, Sumut, Kamis (2/9/2021) siang diwarnai kericuhan.

Warga khawatir nenek berusia 66 tahun itu menghalangi rencana keluar rumah hingga terjadi pertengkaran. Sebelumnya, para preman ini pernah mengunci rumah neneknya yang hanya bekerja sebagai pengemis.

Sejumlah preman dan penasehat hukumnya, bersama kepala lingkungan dan perangkat desa, mengklaim bahwa pemilik rumah telah mengosongkan rumah nenek Tioe Ek Hoa dan tiga cucunya yang yatim piatu di Desa Sei Renggas Satu Jalan Lahat Nomor 56 D di Medan Kota. Kecamatan, Medan.

Namun upaya komplotan preman, bersama kuasa hukum yang dikirim oleh seorang pria bernama Kevin Tiopan untuk meninggalkan rumah, digagalkan oleh warga yang merawat nenek mereka, yang telah tinggal di rumah selama puluhan tahun.

Sebuah kerusuhan pecah. Warga sempat berdebat dengan sekelompok preman dan pengacara yang mengaku telah membeli rumah tersebut. Para preman yang memicu kemarahan itu berencana mengusir paksa nenek dan tiga cucunya dengan pintu depan terkunci dan dirantai. Rumah milik Kevin per Akta No. 01 tahun 2021.

Tak hanya warga dan pihak yang adu mulut, pengacara yang mengaku telah membeli rumah dengan pengacara sang nenek pun ikut riuh. Pasalnya, pengacara sang nenek melihat adanya pemalsuan dan pemalsuan data pembelian rumah yang tidak diketahuinya dan anggota keluarga lainnya.

Suasana mereda ketika penduduk setempat, bersama seorang pengacara dan pengacara nenek, meminta sekelompok gangster untuk menyelesaikan masalah rumah mereka di pengadilan.

Pengacara nenek, Tioe Ek Hoa, merasa kasihan dengan tindakan bodong yang dilakukan sekelompok preman dan pengacara yang mengaku membeli rumah secara sepihak tanpa melibatkan diri di pengadilan. Pasalnya, persoalan jual beli rumah tersebut tidak diketahui neneknya dan saat ini sedang ditangani pihak berwajib.

Baca juga: Tukang daging kucing divonis 2,5 tahun penjara

Pengacara sang nenek, Wilson Tambunan, juga turut prihatin dengan sikap masyarakat yang seolah mendukung sekelompok preman yang mendatanginya tanpa mengkhawatirkan nasib pengemis yang membesarkan ketiga cucunya.

Untungnya, dengan penduduk setempat merawat nenek untuk menjaga rumah agar tidak mengosongkan, Kepling seharusnya mencoba menangkap sekelompok preman dan pengacara yang mengklaim bahwa pemiliknya tidak sombong datang ke tempat kejadian.

Sebelumnya, nenek dari tiga cucu yatim piatu ini selalu ketakutan dan rumahnya langsung dikosongkan. Ini setelah putranya Tioe Li Yen meninggal pada Desember 2020.

Rumah tersebut merupakan warisan dari orang tua nenek saya. Namun, saat itu, sang nenek tidak memiliki KTP, sehingga rumah tersebut akhirnya dinamai menurut putranya Tioe Li Yen, yang menikah dengan Chung Chai. Pada 2012, suami Tioe Li Yen, Joeng Chai, pindah ke Jepang. Setelah suaminya pergi, Tioe Li Yen berkenalan dengan seorang pria bernama Fery Salim.

Keterlibatan Fery Salim dalam penjualan rumah diduga karena memalsukan data keluarga tanpa sepengetahuan nenek Tioe Ek Hoa. Suami T.O.E, Lien, yang aktif di Jepang saat itu. Bahkan jika harta itu adalah harta Kontojini.

Ironisnya, baru setelah kematian Tioe Li Yen ada yang mengklaim bahwa Kevin Tiopan membeli rumah itu. Padahal, transaksi jual beli tersebut terjadi pada tahun 2019. Anehnya, kuasa hukum nenek Tioe Ek Hoa mengakui Tringgani Tarigan, notaris yang menerbitkan akta jual beli, tampak menutup-nutupi saat meminta bukti. Bukti jual beli rumah.

Kuasa hukum sang nenek juga berencana akan memanggil Tringani Tarigan, notaris yang melakukan penjualan perdana pada 2021 atas nama Kevin Thiopan. .